Home // Uncategorized // PENGEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

PENGEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

MAKALAH

PENGEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

DI INDONESIA

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan Islam

                                Dosen pengampu : Drs. H .Zaenuddin Bukhori, M.Ag.

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Agus Siswoyo

152111569

 

 

JURUSAN TARBIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensi bawaan” seperti potensi “keimanan”, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Dengan potensi ini manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan dapat dipastikan bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau. Karena itu, secara ekstrim dapat dikatakan bahwa maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah / Perguruan Tinggi

Pemahaman tentang pendidikan agama islam di sekolah / perguruan tinggi dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sebagai aktifitas dan sebagai fenomina. PAI sebagai aktifitas, berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup (bagaimana orang akan menjalani dan memanfaatkan hidup dalam kehidupannya), sikap hidup dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental dan sosial yang bernapaskan atau dijiwai oleh ajarn dan nilai-nilai islam. Sedangkan PAI sebagai fenomina adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih atau penciptaan suasana yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup yang bernapaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai islam, yang diwujudkan dalam sikap hidup serta keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak.

Diskursus tentang pengembangan pendidikan agama islam di Indonesia yang dipresentasikan oleh para ahli  dan pemerhati pendidikan Islam, baik melalui tulisan-tulisan mereka diberbagai buku, majalah, jurnal dan sebagainya, maupun melalui kegiatan seminar, penataran, dan lokakarya, serta kegiatan lainnya, telah memperkaya wawasan dan visi kita dalam mengembangkan pendidikan agama Islam di Indonesia. Berbagai pemikiran dan pengalaman mereka perlu dipotret, ditata dan didudukkan dalam suatu paradigma, sehingga model-model,  orientasi dan langkah-langkah yang hendak dituju menjadi semakin jelas. Lagi pula kalau seseorang hendak melakukan pengembangan dan penyempurnaan, maka kata kuncinya sudah dapat dipegang, sehingga tidak akan terjadi salah letak, arah dan langkah, yang pada gilirannya dapat menimbulkan sikap overacting dalam menyikapi paradigma tertentu.

Selama ini telah banyak pemikiran dan kebijakan yang diambil dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan agama Islam yang diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pengembangan sistem pengembangan di Indonesia, dan sekaligus hendak memberikan kontribusi dalam menjabarkan makna pendidikan nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membangun watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta brtanggung  jawab.

Munculnya berbagai pemikiran dan kebijakan tentang pembinaan pendidikan agana islam secara terpadu pada sekolah umum, pengembangan dan peningkatan kualitas madrasah, pesantren, kegiatan pesantren kilat di sekolah umum, serta pendidikan agama islam di perguruan tinggi dan sebagainnya, adalah beberapa contoh manifestasi dari usaha-usaha tersebut diatas.

Namun demikian dalam beberapa hal agaknya pemikiran konseptual pengembangan pendidikan agama Islam dan beberapa kebijakan yang diambil kadang-kadang terkesan menggebu-gebu, idealis, romantis, atau bahkan realistis, sehingga para pelaksana dilapangan kadang-kadang mengalami beberapa hambatan dan kesulitan untuk merealisasikannya atau bahkan intensitas pelaksanaan dan efektivitasnya masih dipertanyakan. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya kejelasan dan lemahnya pemahaman paradigma (jendela pandang) pengembangan pendidikan agama Islam itu sendiri, yang berimplikasi pada kesalahan orientasi dan langkah, atau ketidakjelasan wilayah dan arah pengembangannya.

Kajian ini dimaksudkan untuk memberikan deskripsi tentang pengembangan pendidikan agama Islam melaui potret atau pemetaan paradigma  yang ada memperjelas orientasi dan wilayah dari masing-masing paradigma tersebut, sehingga pemikiran dan kebijakan yang terkesan menggebu-gebu, idealis dan kurang realistis, dapat ditelaah ulang dan dikoreksi kembali.  Selanjutnya dapat direkonstruksi paradigma mana yang sekiranya relevan untuk dikembangkan dalam menatap masa depan bangsa Indonesia menuju masyarakat madani.

B. Pengembangan Pemikiran Pendidikan Islam Pada Era Global Dan Modern

Tahap-tahap pengembangan pemikiran pendidikan Islam, terutama pada masa global dan modern dengan terlebih dahulu kita akan menjumpai klasifikasi dari pengembangan pemikiran pendidikan Islam dari awal yang meliputi: masa perkembangan awal yang terjadi pada Rasul dan Sahabat, kemudian pada masa klasik dengan tokohnya Imam al-Ghazali dan Ikhwan al-Shafa,

dan terakhir sampai pada masa global dan modern. Pada masa global dan modern ini akan diwakili dengan kehadiran dua tokoh pemikir pendidikan Islam yaitu Syed Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung yang akan kembali merumuskan suatu konsep pendidikan Islam yang utuh.

1. Pemikiran Pendidikan Syed Muhammad Naguib al-Attas Tentang Pendidikan Islam

a. Pengertian Pendidikan Islam

Dalam bahasa Arab, terdapat tiga terminologi yang merujuk kepada konsep pendidikan, yakni Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib. Naguib al-Attas memberikan pengertian kritis tentang penggunaan ketiga istilah tersebut. Istilah Tarbiyah, menurut ia untuk menggambarkan pendidikan Islam terlalu dipaksakan. Pengertian yang terkandung di dalam istilah tersebut tidak mewakili hakikat dan proses pendidikan Islam secara penuh. Karena itu, ia meyakini bahwa istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk mengartikan pendidikan Islam.

Pendidikan dan prosesnya, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pemikiran pendidikan Naguib al-Attas lebih menekankan pada penanaman adab pada diri manusia di dalam proses pendidikan. Peneka   nan pada penanaman adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan.

b. Tujuan Pendidikan Islam

Berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai-nilai yang bercorak Islami. Dalam hal ini Naguib al-Attas lebih menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi individu dari pada masyarakat. Namun jika dicermati bahwa penitikberatan pada diri pribadi individu tersebut, tidak berarti mengabaikan terbentuknya suatu masyarakat yang ideal. Hal ini seperti apa yang diutarakannya: “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik”.

Dengan demikian Naguib al-Attas meyakini bahwa masyarkaat akan menjadi lebih baik apabila individunya baik. Hal ini merupakan akibat logis dari pandangan dunianya yakni kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan melimpah lebih dahulu melalui individu, karena individu menempati posisi lebih tinggi dalam hirarki realitas dibanding dengan masyarakat.

Dalam terminologi Naguib al-Attas, untuk menghasilkan manusia yang baik agaknya perlu diawali dengan pembinaan diri pribadi individu itu sendiri, karena dengan pembinaan diri pribadi individu menjadi baik, maka secara otomatis akan menghasilkan masyarakat yang baik. Naguib al-Attas menghendaki agar pendidikan Islam mampu menghasilkan manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universal dalam wawasan dan otoritatif dalam ilmu pengetahuan, dengan kata lain manusia yang mencerminkan pribadi Nabi Muhammad SAW.

c. Kurikulum Pendidikan Islam

Menurut Naguib al-Attas, dalam penyusunan kurikulum pendidikan yang terlebih dahulu ditetapkan adalah ruang lingkup dan kandungan ilmu pada tingkat universitas. Langkah ini perlu karena dalam pemikirannya perwujudan yang paling tinggi dan sempurna dalam sistem pendidikan Islam adala pada tingkat universitas, maka formulasi kandungannya harus diutamakan. Dalam hal ini seperti apa yang dikatakannya:

Ruang lingkup dan kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan ke dalam tahapan-tahapan yng lebih sedikti secara berurutan ke tingkat-tingkat yang lebih rendah, mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistemasi yang paling lengkap dan paling tinggi, dan hanya jika hal ini bisa dicapai barulah dia akan menjadi model bagi yang berada dibawahnya.

d. Visabilitas Pemikiran Syed Naguib al-Attas bagi Pendidikan Islam Dewasa ini

Berdasarkan kondisi pendidikan Islam ini, sebagaimana yang telah disekripsikan diatas. Maka pemikiran pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Naguib al-Attas nampaknya memiliki relevansi dan signifikansi yang tinggi serta layak untuk dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk diaktualisasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang berusaha untuk mengintegrasikan dikotomi ilmu pengetahuan dan menjaga keseimbangan yang bercorak moral-religius.

Domain Imam sangat diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal rasional saja, akan tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra-rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya kecuali didasari dengan iman yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Domain iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan.

Dari uraian diatas, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Naguib al-Attas, beliau nampaknya berusaha untuk menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu. Hal tersebut dapat secara jelas dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah untuk mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (insan kamil).

2. Pemikiran Pendidikan Islam Hasan Langgulung

a. Pengertian Pendidikan Islam

Istilah Pendidikan Islam dalam pandangan Hasan Langgulung digunakan sekurang-kurangnya untuk 8 (delapan) pengertian dan dalam konteks yang berbeda yaitu:

1. Pendidikan Keagamaan (al-Tarbiyah al-Diniyah)

2. Pengajaran Agama (al-Ta’lim al-Islami)

3. Pengajaran Keagamaan (al-Ta’lim al Dinity)

4. Pendidikan Keislaman (al-Ta’lim al-Islami)

5. Pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam)

6. Pendidikan di kalangan orang Islam (al-Tarbiyah Inda al-Muslimin)

7. Pendidikan orang-orang Islam (Tarbiyah al-Muslimin)

8. Pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah)

Untuk memahami betul-betul pengertian yang ditulis tentang apa yang dimaksudkan pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah) menurut Hasan Langgulung kita harus dapat menggabungkan istilah pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam) dan pendidikan di kalangan orang-orang Islam (al-tarbiyah Inda al-Muslimin) dengan pengertian yang dimaksud adalah: Kerangka pemikiran yang menangani berbagai masalah-masalah pengajaran dan konsep-konsep pendidikan dalam asas-asas teoritisnya dan media praktisnya seperti yang dinyatakan di dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pokok, kemudian menerima sumbangan-sumbangan pemikiran (al-Turath a-Fikr) yang telah dibawa pakar-pakar dalam berbagai bidang seperti ulama-ulama fiqih, ulama-ulama hadits, ulama-ulama falsafah dan ahli-ahli fikir Islam sepanjang sejarah.

b. Kurikulum Pendidikan Islam

Pendidikan akhlaq adalah pusat yang di sekelilingnya berputar program dan kurikulum pendidikan Islam. Dapat kita ringkaskan tujuan pokok pendidikan Islam dalam satu perkataan: Fadillah (sifat yang utama). Filosof-filosof Islam sepakat bahwa Pendidikan Akhlaq adalah jiwa pendidikan Islam. Sebab tujuan pertama dan termulia pendidikan Islam adalah menghaluskan akhlaq dan mendidik jiwa.

Kurikulum dalam pendidikan islam bersifat fungsional, tujuannya mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal agama dan Tuhannya, berakhlaq al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan di situ melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.

c. Pendekatan dalam Pendidikan Islam

Hasan Langgulung menyimpulkan tentang pendekatan dalam pendidikan Islam yang terbagi ke dalam tiga pendekatan; Pendekatan Pertama mengganggap pendidikan sebagai Pengembangan Potensi. Pendekatan kedua cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya. Sedang Pendekatan ketiga menganggapnya sebagai Interaksi antara potensi dan budaya. Dimana ketiga pendekatan diatas tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Dalam kaitannya dengan Islam, interaksi antara potensi dan budaya ini lebih menonjol sebab baik potensi yang berupa roh Allah yang disebut fitrah, seperti dinyatakan dalam hadits yang artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya orang tuanya menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari), ataupun agama yang diwahyukan kepada Rasul itu juga adalah fitrah, seperti firman Allah yang artinya: “Fitrah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengannya”. (Q.S. 30:30).

Jadi, fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia semenjak lahir dan fitrah sebagai din yang menjadi pondasi tegaknya peradaban Islam. Pendeknya, fitrah dipandang dari dua sudut yang berlainan. Dari satu segi adalah potensi, dari segi lain ia adalah din. Yang satu adalah roh Allah (Q.S. 15:29) sedang segi yang lain adalah perkataan (kalam) Allah. Dalam sejarah pendidikan Islam, kita akan melihat bagaimana pendekatan-pendekatan pendidikan ini beroperasi dengan memperhitungkan aspek-aspek lingkungan dimana ia berada, tanpa melupakan tujuan kejadian manusia.

d. Strategi Pendidikan Islam

Strategi pendidikan yang diusulkan oleh Hasan Langgulung, terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tujuan, dasar dan prioritas dalam tindakan.

1) Tujuan                                          

Ada dua pokok yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, yaitu; pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah dan agama-Nya dan pembentukan masyarakat yang shaleh yang mengikuti petunjuk agama Islam dalam segala urusannya.

a. Pembentukan Insan Shaleh

b. Pembentukan Masyarakat Shaleh

2) Dasar-dasar Pokok

Dasar-dasar pokok pendidikan di dunia Islam adalah ajaran Islam itu sendiri, diantaranya:

  1. Keutuhan (Syumuliyah)
  2. Keterpaduan
  3. Kesinambungan
  4. Keaslian
  5. Bersifat ilmiah
  6. Bersifat pratikal
  7. Kesetiakawanan
  8. Keterbukaan

3) Prioritas Dalam Tindakan

Bertolak dari tujuan-tujuan dan dasar-dasar pokok yang telah dikemukakan, maka Hasan Langgulung memandang perlu adanya prioritas dari segi yang harus diberikan oleh orang-orang yang bertanggungjawab tentang pendidikan di dunia Islam. Komponen itu adalah:

  1. Berusaha menyerap semua anak-anak yang mencapai umur sekolah dan membuat perancangan  pendidikan dan ketrampilan minimun untuk membolehkan mereka, bagi yang tidak dapat melanjutkan pelajaran, memasuki kehidupan sehari-hari dengan modal ketrampilan yang terhormat
  2. Melaksanakan berbagai jalur perkembangan tahap pendidikan dan membimbingnya ke arah yang fleksibel dan licin
  3. Meninjau kembali kandungan dan kaedah pendidikan supaya sesuai dengan semangat Islam dan ajaran-ajarannya, dan berbaagai keperluan-keperluan ekonomi, teknik dan sosial
  4. Mengukuhkan pendidikan agama dan akhlak dalam seluruh tahap dan bentuk pendidikan, supaya generasi baru dapat menghayati nilai-nilai Islam semenjak masa kecil
  5.  Kerjasama. Kerjasama adalah salah satu dari aspek utama yang harus mendapat perhatian besar dikalangan penanggungjawab-penanggungjawab pendidikan karena kesetiakawanan dan kesepaduan di antara negara-negara Islam

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Pendidikan sebagai upaya menyiapkan generasi penerus agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dengan budaya yang mereka anut, sebenarnya merupakan salah satu tradisi umat manusia yang hampir setua usia manusia itu sendiri. Artinya, secara ilmiah ada upaya regenerasi. Sehingga eksistensi peradaban manusia dapat terjaga dan berkembang.

Naguib al-Attas sebagai salah satu tokoh pendidikan Islam pada era global menawarkan sebuah istilah yang dianggapnya dapat menggambarkan pengertian pendidikan Islam dalam keseluruhan esensinya yang fundamental. Dan nampaknya Naguib al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan, bukan tarbiyah. Alasanya bahwa kata tarbiyah secara semantik tidak khusus ditujukan untuk mendidik manusia, akan tetapi dapat dipakai pada species lain,. Seperti mineral, tanaman dan hewan. Selain itu tarbiyah berkonotasi material yang mengandung arti: mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membersarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Sementara ta’dib sasarannya jelas yakni khusus hanya untuk manusia.

Kemudian pada era modern muncul juga seorang tokoh pendidikan Islam yang sangat terkenal, yaitu Hasan Langgulung. Dalam pandangan Hasan Langgulung bahwa pendidikan Islam pada akhirnya harus mampu mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal dengan agama dan Tuhannya, berakhlak al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarkaat yang bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan disitu melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994

Ismail SM., Paradigma Pendidikan Islam Prof. DR. Syed Muhammad Naguib al-Attas, dalam Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Langgulung, Hasan., Pendidikan Islam Indonesia; Mencari Kepastian Historis, dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Pengantar: Dawam Rahardjo, Jakarta: P3M, 1989

 

Posted in Uncategorized